Pengambilan Keputusan Terberat Dalam Hidup

     Pada tugas TOU 2 kali ini, kami para mahasiswa/i diberi tugas untuk menulis sebuah “keputusan terberat apakah yang pernah kami ambil” dalam hidup ? setiap manusia pasti pernah dihadapakan pada sebuah pengambilan keputusan dalam hidupnya, oleh karena itu saya akan membagikan sedikit dari apa yang pernah saya alami.

     Berdasarkan pengalaman hidup diri sendiri, saya pernah berada di posisi seperti ini. itu semua bermula ketika saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. pada saat itu saya pernah mengalami musibah yaitu suatu kecelakaan dimana kecelakaan tersebut mengakibatkan sebelah sisi kanan wajah saya sedikit hancur. sempat shock pasca kecelakaan tersebut saya langsung menuju rumah dengan darah yang melumuri wajah, lengan kanan, dan kaki lutut kanan saya. pikiran saat itu hanyalah “apa yang harus saya katakan ketika sesampai dirumah ?” hingga pada akhirnya saya sempat berbohong kepada orang tua saya mengenai kenyataan yang sebenarnya akan musibah yang saya dapat, ini semata-mata bukan karena saya takut dimarahi atau lain sebagainya melainkan saya pribadi tidak ingin kedua orang tua saya cemas akan hal ini. efek tersebut masih terus berlanjut khususnya pada mental ataupun psikis sampai-sampai saya takut hanya untuk bercermin. bahkan pada saat itu berharap luka – luka yang ada di wajah sembuh saja sudah cukup bagi saya.

     Tidak hanya mental ataupun psikis saya terkena dampaknya, melainkan kemampuan saya untuk bersosialisasi juga, itu semua terjadi ketika saya berada di sekolah. tidak mudah memang untuk muncul di depan umum dan berhadapan dengan orang – orang, dengan luka – luka yang berada di wajah dan tangan, seakan – akan saya minder dengan kondisi saya pada saat itu, dan hal yang paling ditakutkan akhirnya benar – benar terjadi. ketika saya harus bertemu dengan orang bermuka dua setiap harinya, dermawan didepan namun busuk dibelakang. entah karena diri saya yang terlalu lemah atau mereka semua yang seperti anak kecil, saya lelah dan cukup muak akan semua itu. saya harus menerima semua omongan – omongan miring mereka tentang diri saya,  diejek, bahkan wajah yang penuh luka ini dijadikan bahan joke bagi mereka.  saya pribadi sebenarnya sudah cukup muak dengan luka saya sendiri, kemudian ditambah dengan hal – hal yang tentunya tidak saya inginkan. hingga pada akhirnya emosi dan kesabaran yang telah lama saya tahan seketika meluap dengan sendirinya dan pada saat itu juga saya memutuskan untuk merubah sikap dengan menutup diri dengan orang sekitar karena saya merasa sangat jatuh dan jauh dari hal – hal yang bisa mensupport saya.

LIFE.

     Ketika itu saya masih belum sadar bahwa keputusan yang saya buat itu bukanlah hal yang berat melainkan sepele. sikap yang dominan pendiam dan menutup diri membuat saya berinteraksi dengan teman hanya jika saya ditanya atau memang harus ada yang saya tanyakan, selain dari itu tidak. sikap yang begitu pasif hingga akhirnya sikap itu berubah menjadi kebiasaan yang saya bawa pada kegatan sehari – hari. hebatnya saya bertahan seperti itu kurang lebih di 6 tahun kebelakang ini. saya tau pemikiran saya pada saat itu sangatlah egois, namun semata – mata itu demi kebaikan diri saya sendiri. saya sudah cukup lelah untuk menerima beban yang tidak seharusnya dengan mengandalkan pemikiran “saya tidak peduli dengan dia dan dia tidak peduli dengan saya” membuat kondisi saya cenderung lebih baik. bahkan saya tidak perduli jika ada orang yang memandang atau menilai saya dengan negative. karena saya biasa sendiri, berpergian sendiri, melakukan sesuatu dengan sendiri dan lain sebagainya saya biasa melakuakannya dengan sendiri.

     Namun seiring waktu akhirnya saya merasa bahwa keputusan yang telah saya lakukan adalah keuputusan terbodoh dan terberat yang pernah saya alami, karena saya sadar saya tidak akan terus bersikap seperti ini. saya tidak pernah merasakan adanya kepuasan batin dalam diri saya dengan teman karena saya jarang berkumpul dengan teman – teman atau melakukan hal – hal yang tergolong seru dan asik dengan dan semacamnya dengan teman saya. setidaknya semua itu pasti meninggalkan kenangan tersendiri walaupun tidak seberapa. ingin rasanya saya seperti mereka, namun semua itu masih sulit ketika sikap saya yang masih seperti ini. hingga suatu hari saya mencoba untuk meniggalkan sedikit demi sedikit kebiasaan yang buruk dan mencoba menjalin hubungan dengan teman, awalnya sulit namun sekarang saya merasakan ada suatu perubahan dalam diri saya sendiri. butuh proses yang cukup lama bahkan sampai sekarang masih merupakan proses bagi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. secara tidak langsung saya harus berterima kasih kepada teman – teman saya saat ini, karena mereka saya dapat menargetkan sesuatu khususnya untuk diri saya sendiri. diluar itu semua banyak hikmah yang saya dapat dari kebiasaan buruk itu, diantaranya membuat saya lebih sabar, lebih bisa mengendalikan emosi, bisa menjaga hati dan lain sebagainya. tidak semua hal baik itu mudah untuk dilakukan terkadang ada saat dimana hal buruk datang juga menghampiri. bagaimanapun juga setiap manusia pasti memiliki kisah nya masing – masing yang dimana setiap kisahnya pasti memliki pelajaran hidup yang berharga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s